Jumat, 17 Maret 2017


Setelah berhasil menyabet gelar sekolah adiwiyata ditingkat kabupaten pada tahun 2016, kini SMANSAR siap melaju untuk menjadi sekolah Adiwiyata nasional.
Pada rentang antara tanggal 13-30 maret 2017 nanti, tim penilai Adiwiyata dari provinsi jawa tengah akan melakukan visitasi ke SMANSAR. Seperti tahun lalu, visitasi ini akan menentukan layak atau tidaknya SMANSAR menuju Sekolah Adiwiyata nasional.
Untuk itu, beragam program inovasi dan perbaikan terkait lingkungan jauh-jauh hari telah dipersiapkan. 
Setidaknya, ada tiga program inovasi lingkungan unggulan yang telah disiapkan sejak tahun 2016.
pertama, Umah Ijo dan kebun organik. Umah Ijo adalah kebun tempat budidaya tanaman hias. hasil budidaya tanaman hias, biasa disewakan untuk dekorasi beragam acara sekolah. Sedangkan kebun organik, merupakan kebun tempat budidaya tanaman pangan organik, seperti kangkung dan caisim. pada saat musim panen, hasilnya akan dijual kepasar oleh siswa.
Kedua, ekstrakurikuler pertamanan.Sejak tahun ajaran baru 2016/2017,SMANSAR berkomitmen untuk menumbuhkembangkan kecintaan dan ketrampilan dalam budidaya tanaman melalui ekstrakurikuler pertamanan.
Ketiga, Bank sampah sekolah (BSS) kejujuran, “Berdikari”. Bank sampah yang dikembangkan di SMANSAR merupakan inovasi berupa penggabungan dari konsep bank sampah konvensional dengan kantin kejujuran. Dalam praktiknya, Siswa yang menimbang, mencatat, dan memilah serta menata sampahnya sendiri.
Selain ketiga program inovasi tersebut, kesiapan menuju Sekolah Adiwiyata nasional yakni dengan tetap membudayakan perilaku dan semangat sadar lingkungan civitas akademika SMANSAR.
Upaya serius yang dilakukan SMANSAR menuju Sekolah Adiwiyata nasional tidaklah lepas dari pamor ‘Adiwiyata’ saat ini. Dimana, hampir setiap sekolah saat ini berlomba-lomba untuk mendapat predikat sebagai Sekolah Adiwiyata nasional.
Selain itu, hal tersebut juga merupakan bagian dari komitmen sekolah dalam pencapaian visi besar SMA N 1 Rembang, yakni berprestasi dalam Iptek dan imtak, berbudaya bangsa dan berwawasan lingkungan.
Kepedulian SMAN 1 Rembang terhadap lingkungan sudah tercermin dari beberapa penghargaan terkait lingkungan. Seperti predikat Sekolah sehat tingkat nasional. Dan pada pertengahan bulan November 2016, Sekolah ini didaulat menjadi salah satu tempat pencanangan Gerakan masyarakat sehat (Germas) dari kementrian kesehatan (B/SM)     

Sampah merupakan permasalahan yang sangat pelik. Tidak hanya di kota, di desa, bahkan di sekolah pun menjadi masalah yang sulit ditangani. Sampai kapan pun permasalahan sampah akan tetap  ada. Selama  ada makhluk hidup, selama itu pula akan ada masalah sampah.  
Hasil riset Jenna R Jambeck dan kawan-kawan, menempatkan Indonesia sebagai negara kedua terbesar di dunia penyumbang sampah plastik ke laut. Sedangkan menurut Riset Greeneration, satu orang di Indonesia rata-rata menghasilkan 700 kantong plastik per tahun (Kompas,23 Januari 2016).
Mengatasi sampah bukanlah persoalan mudah. Berbagai kebijakan telah dilakukan.Bahkan di daerah-daerah tertentu, ada yang membuat peraturan daerah (perda) khusus perihal sampah. Nyatanya, hasilnya pun belum maksimal.
Akar utama masalah sampah  yakni,  mental dan mindset (pola pikir-pen) masyarakat akan sampah itu sendiri. Selama ini, sampah hanya  dianggap sebagai suatu sisa yang tak berguna. Selain itu, kesadaran akan bahaya sampah juga masih kurang. Banyak orang yang tahu tentang bahaya sampah. Namun mereka tidak sadar dan betul-betul peduli terhadap sampah
Mengatasi masalah sampah, berarti masalah bagaimana merubah mental dan mindset masyarakat tentang sampah. Untuk merubah mental dan mindset itu,  tentu membutuhkan waktu yang lama. Sekolah sebagai tempat pendidikan merupakan lingkungan yang paling tepat untuk inkubator (penggodokan-pen) pembentukan mental dan mindset itu 
Banyak cara yang dapat diterapkan Sekolah untuk membentuk mental dan mindset peduli sampah. Diantaranya, yakni dengan memasukan materi lingkungan hidup kedalam mata pelajaran, mengadakan ekstrakurikuler tentang lingkungan, ataupun membentuk bank sampah sekolah
Cara yang disebutkan terakhir, meskipun merupakan inovasi baru. Namun, di beberapa sekolah saat ini menjadi trend. Karena, keberadaan bank sampah dapat menjadi solusi efektif untuk pengelolaan sampah.
Bank sampah , merupakan sistem pengelolaan sampah  yang manajemennya mengadopsi sistem perbankan Dimana, sampah yang selama ini dibuang, kini justeru ditabung. Saldo tabungan sampah, nantinya dapat ditukarkan. Baik dengan uang, barang, ataupun jasa tertentu, sesuai dengan kesepakatan. Sedangkan sampahnya sendiri, oleh pihak bank sampah dapat dijual, ataupun didaur ulang 
Melalui Bank sampah sekolah, warga sekolah, baik itu Siswa, guru, maupun karyawan diajak untuk terbiasa peduli dengan sampah. Sampah-sampah yang ada disekitarnya, tidak lagi mereka buang. Melainkan mereka pilah, simpan, tabung dan manfaatkan. 
Penulis meyakini, jika kebiasaan ini bisa dimulai pada level pendidikan yang paling dasar, kedepan Sampah bukan lagi masalah. Sebaliknya justeru menjadi berkah.
Oleh karenanya, marii kita galakan semangat, “Yuk nabung sampah” 
Oleh: Drs Sukirno

Senin, 20 Februari 2017

PURBALINGGA – Berhasil menyeimbangkan antara bangunan dan ruang terbuka hijau, SMA1 Rembang diajukan menjadi Sekolah Adiwiyata.
Jumat (22/4) kemarin, bertepatan dengan Hari Bumi, Tim Verifikator Sekolah Adiwiyata Tingkat Provinsi Jawa Tengah mengunjungi sekolah yang berlokasi tepat di depan Monumen Tempat Lahir Jenderal Soedirman, di Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang itu.
Rombongan terdiri atas Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jateng, dosen Unnes dan Upgris, serta unsur dinas pendidikan. Kukuh Santoso, anggota tim verifikator, setiba di SMA 1 Rembang Purbalingga memberi apresiasi. “Ternyata setelah masuk ke areal sekolah, sangat luar biasa.
Sangat pantas jika sekolah ini menyandang predikat sebagai sekolah adiwiyata,” katanya. Setiba di sekolah, tim verifikator langsung mengunjungi sekolah yang pernah menyabet juara pertama Lomba Sekolah Sehat Tingkat Nasional itu.
Kepala sekolah Purwito menjelaskan, lingkungan SMA 1 Rembang dibangun dengan memperhatikan konsep keseimbangan antara bangunan dan ruang terbuka hijau.
“Sudah lama kami membuat ratusan biopori di lingkungan sekolah. Sebagai jalan bagi air hujan untuk meresap ke bumi sekaligus menghasilkan kompos,” jelas Purwito.
Partisipasi Siswa
Dia juga berharap, momen penilaian ini menjadi suntikan energi positif untuk mewujudkan SMAN 1 Rembang sebagai pelopor adiwiyata. Salah seorang verifikator, Ari Susatyo Nugroho menilai lingkungan SMA 1 Rembang sangat bagus.
Apalagi ada pelibatan dan partisipasi siswa dalam mewujudkannya. Ari yang juga dosen Univeritas PGRI Semarang (Upgris) menyarankan, pelibatan siswa tersebut dimantapkan dengan dokumen pendukung.
Sementara itu Puji R Pratiwi, guru yang juga Koordinator Kegiatan Berbasis Partisipatif, mengatakan sekolahnya mengusung konsep keseimbangan antara luas bangunan dan ruang terbuka hijau. Dengan adanya keseimbangan berbasis lingkungan, warga sekolah merasa nyaman beraktivitas. Sekaligus terstimulasi energinya untuk berprestasi.
“Program yang dilakukan terkait adiwiyata di antaranya reduce (penggunaan produk ramah lingkungan), reuse (penggunaan barang bekas pakai), dan recycle (mendaur ulang),” jelas guru matematika itu
Sumber: http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/sma-1-rembang-maju-sebagai-sekolah-adiwiyata/

Terbanyak Dibaca